Raih Masa Depan Gemilang Bersama Sekolah Ibnu Khaldun

Simulasi Routing Static dan Dynamic

1
1

Routing adalah proses menentukan jalur (path) yang digunakan paket data untuk berpindah dari sumber ke tujuan pada jaringan komputer. Pada jaringan bertingkat (multi-subnet / multi-site), router menggunakan tabel routing untuk memutuskan kemana paket harus dikirim. Terdapat dua metode utama dalam menentukan rute: routing statis (static routing) dan routing dinamis (dynamic routing).

Artikel ini menjelaskan konsep kedua metode, keunggulan dan kelemahannya, serta menyediakan panduan langkah-demi-langkah untuk mensimulasikan kedua jenis routing pada lingkungan lab menggunakan alat simulasi populer. Juga disertakan contoh konfigurasi CLI (Cisco IOS) untuk static routing serta protokol dinamis umum (RIP, OSPF, EIGRP), teknik verifikasi, troubleshooting, dan rekomendasi desain jaringan.

Dalam praktik jaringan, pemilihan antara routing statis dan dinamis tergantung pada ukuran jaringan, kebutuhan skalabilitas, ketersediaan sumber daya, dan kebutuhan resiliency. Routing statis mudah diimplementasikan dan aman untuk jaringan kecil/statis, tetapi tidak praktis untuk jaringan yang sering berubah. Routing dinamis menggunakan protokol routing yang saling bertukar informasi sehingga tabel routing dapat terupdate otomatis saat topologi berubah — berguna untuk jaringan menengah hingga besar.

Simulasi routing di lab (Packet Tracer, GNS3) penting bagi siswa TKJ/SMK untuk memahami bagaimana konfigurasi mempengaruhi forwarding, bagaimana protokol routing berperilaku, dan bagaimana mendiagnosis masalah jaringan sebelum diterapkan di produksi.

Pembahasan dibagi menjadi: konsep dasar, perbandingan static vs dynamic, setup topologi contoh, langkah simulasi – konfigurasi & verifikasi, contoh konfigurasi protokol (RIP/OSPF/EIGRP), troubleshooting umum, best practices, dan latihan yang disarankan.


1. Konsep Dasar Routing

  • Routing table: daftar jaringan tujuan (destination networks) dengan next-hop atau outgoing interface.
  • Next hop vs Exit interface: Router dapat menunjuk next hop IP address (router selanjutnya) atau langsung interface fisik.
  • Administrative Distance (AD): nilai kepercayaan suatu sumber rute (lower is preferred). Static routes default AD biasanya 1; OSPF 110; EIGRP internal 90; RIP 120.
  • Metric: nilai biaya yang dipakai protokol routing untuk memilih jalur terbaik (hop count, bandwidth, delay, cost).
  • Convergence: proses protokol routing mencapai keadaan konsisten setelah perubahan topologi.

2. Perbandingan: Static Routing vs Dynamic Routing

Static Routing

  • Kelebihan: sederhana, deterministik, tidak membutuhkan CPU/ memori besar, lebih aman (tidak bertukar informasi routing dengan pihak lain).
  • Kekurangan: skalabilitas buruk (banyak rute harus dikonfigurasi manual), rentan human error, tidak otomatis menyesuaikan bila terjadi perubahan topologi.

Dynamic Routing

  • Kelebihan: otomatis mendeteksi perubahan topologi, mudah skalanya, protokol mendukung load balancing (pada kondisi tertentu), lebih toleran terhadap kegagalan link.
  • Kekurangan: memerlukan sumber daya (CPU, memori, bandwidth untuk update), lebih kompleks, perlu tuning parameter, ada risiko informasi routing bocor jika tak dikonfigurasi keamanan.

3. Topologi Contoh untuk Simulasi (Sederhana dan Menengah)

Topologi A — Sederhana (Static routing)

PC-A (192.168.10.10/24)
    |
R1 (G0/0 192.168.10.1/24) --- R2 (G0/0 192.168.20.1/24)
    |                            |
LAN-A                         PC-B (192.168.20.10/24)

Konsep: dua router (R1, R2) menghubungkan dua subnet; gunakan static route di setiap router untuk mencapai subnet lain.

Topologi B — Menengah (Dynamic routing)

         [R3]
        /    \
   [R1]      [R2]
    |         |
  LAN1      LAN2

Konsep: tiga router saling terhubung, jalur alternatif bisa ada; gunakan OSPF/EIGRP/RIP untuk melihat propagasi rute dan convergence.


4. Langkah Simulasi — Static Routing (Packet Tracer / GNS3)

Tujuan: membuat PC di subnet A dapat ping ke PC di subnet B menggunakan static routes.

Langkah:

  1. Buat topologi: tambahkan dua router, dua PC, sambungkan sesuai topologi A.
  2. Konfigurasi IP di PC:
    • PC-A: IP 192.168.10.10 mask 255.255.255.0 gateway 192.168.10.1
    • PC-B: IP 192.168.20.10 mask 255.255.255.0 gateway 192.168.20.1
  3. Konfigurasi interface di router:
    • R1: interface GigabitEthernet0/0 ip address 192.168.10.1 255.255.255.0 no shutdown interface GigabitEthernet0/1 ip address 10.0.12.1 255.255.255.252 no shutdown
    • R2: interface GigabitEthernet0/0 ip address 192.168.20.1 255.255.255.0 no shutdown interface GigabitEthernet0/1 ip address 10.0.12.2 255.255.255.252 no shutdown
  4. Tambahkan static route:
    • Pada R1: ip route 192.168.20.0 255.255.255.0 10.0.12.2
    • Pada R2: ip route 192.168.10.0 255.255.255.0 10.0.12.1
  5. Verifikasi:
    • show ip route pada masing-masing router — harus tampil rute statis (S).
    • ping 192.168.20.10 dari PC-A.
    • traceroute untuk melihat hop.

Catatan: Jika ingin default gateway di R1 menuju R2, gunakan ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 next-hop.


5. Langkah Simulasi — Dynamic Routing (OSPF contoh)

Tujuan: mengaktifkan OSPF agar router saling menukar rute otomatis.

Langkah:

  1. Buat topologi B (R1, R2, R3), sesuaikan IP antar link (contoh: 10.0.12.0/30, 10.0.23.0/30, 10.0.13.0/30).
  2. Konfigurasi IP di interface seperti static step.
  3. Aktifkan OSPF (process 1) dan network statement:
    • R1: router ospf 1 network 192.168.1.0 0.0.0.255 area 0 network 10.0.12.0 0.0.0.3 area 0 network 10.0.13.0 0.0.0.3 area 0
    • R2: router ospf 1 network 192.168.2.0 0.0.0.255 area 0 network 10.0.12.0 0.0.0.3 area 0 network 10.0.23.0 0.0.0.3 area 0
    • R3: router ospf 1 network 192.168.3.0 0.0.0.255 area 0 network 10.0.13.0 0.0.0.3 area 0 network 10.0.23.0 0.0.0.3 area 0
  4. Verifikasi:
    • show ip ospf neighbor untuk melihat neighbor adjacency.
    • show ip route untuk melihat rute OSPF (kode O).
    • ping antar subnet.

Pengamatan: Jika link antara R1–R2 down, OSPF akan menghitung ulang rute dan traffic akan melewati jalur alternatif (R1–R3–R2) setelah convergence.


6. Contoh Konfigurasi Lain (RIP dan EIGRP singkat)

RIP v2 (simple)
Pada tiap router:

router rip
 version 2
 network 192.168.10.0
 network 192.168.20.0
 network 10.0.12.0

RIP menggunakan hop count, max 15 hop.

EIGRP (classless, Cisco proprietary)

router eigrp 100
 network 10.0.0.0
 network 192.168.0.0
 no auto-summary

EIGRP menawarkan fast convergence dan metric kompleks (bandwidth, delay).


7. Verifikasi dan Troubleshooting (perintah penting)

  • show ip route — melihat tabel routing (statis & dinamis).
  • show ip interface brief — memeriksa status interface.
  • show ip protocols — melihat protokol routing aktif dan networks.
  • show ip ospf neighbor / show ip eigrp neighbors / show ip rip database — melihat adjacency/peers.
  • debug ip rip / debug ip ospf events — (hati-hati di lab) untuk melihat update routing secara real time.
  • ping, traceroute — uji konektivitas & jalur.
  • Jika rute hilang: cek IP interface, subnet mask, next-hop reachable, access-list yang memblok, atau koneksi fisik.

Contoh kasus troubleshooting:

  • Masalah: ping gagal antar subnet tetapi show ip route sudah berisi rute.
    Penyebab umum: firewall/access list memblok ICMP, gateway host salah, mask mismatch, atau NAT yang salah.
  • Masalah: OSPF neighbor tidak terbentuk.
    Penyebab: mismatch area ID, mismatch hello/dead timers, network type mismatch (broadcast vs NBMA), atau authentication mismatch.

8. Best Practices & Desain Routing

  • Gunakan static route untuk: jaringan kecil, default-route ke ISP, atau route backup (floating static route dengan AD lebih tinggi).
  • Gunakan dynamic routing untuk: jaringan yang skalanya menengah–besar atau dengan topologi yang berubah.
  • Segmentasi dengan VLAN dan gunakan routing inter-VLAN di L3 switch atau router.
  • Kombinasi: static route untuk default + dynamic protocol internal untuk internal routing.
  • Keamanan: batasi pertukaran routing antar domain (use distribute-list / route-maps), gunakan authentication (OSPF MD5, EIGRP auth).
  • Monitoring: aktifkan SNMP, syslog, dan monitoring untuk deteksi cepat.
  • Test perubahan di lab sebelum diterapkan produksi.

9. Latihan/Tugas Praktikum yang Disarankan

  1. Static routing: buat topologi 4 subnet, konfigurasikan static routes dan tambahkan default route, uji failover dengan mematikan link.
  2. RIP lab: aktifkan RIP di topologi segitiga; amati count-to-infinity dan limitasinya.
  3. OSPF multi-area: buat area 0 dan area 1, konfigurasi ABR dan lihat LSDB (link state database).
  4. EIGRP metric tuning: eksperimen mengubah bandwidth/delay untuk melihat perubahan jalur.
  5. Hybrid: gabungkan static + OSPF; tambahkan floating static route sebagai backup dan uji switching saat kegagalan link.

Kesimpulan

Simulasi routing—baik statis maupun dinamis—adalah latihan penting untuk memahami bagaimana paket berpindah antar-subnet, bagaimana protokol routing memilih jalur terbaik, dan bagaimana jaringan bereaksi terhadap perubahan topologi. Routing statis cocok pada jaringan kecil dan memberikan kontrol penuh, sedangkan routing dinamis menawarkan skalabilitas dan toleransi terhadap kegagalan pada jaringan yang lebih besar.

Dalam praktik pembelajaran:

  • Mulailah dengan static routing untuk memahami prinsip dasar forwarding dan routing table.
  • Lanjutkan dengan protokol dinamis (RIP → OSPF/EIGRP) untuk memahami metric, neighbor relationship, LSDB/updates, dan convergence.
  • Selalu verifikasi menggunakan perintah diagnostik, dokumentasikan konfigurasi, dan uji perubahan di lab sebelum produksi.
  • Terapkan best practice keamanan dan monitoring agar infrastruktur routing handal dan aman.

Dengan penguasaan simulasi routing secara terstruktur, siswa SMK/TKJ akan memperoleh kompetensi teknis yang kuat untuk menangani perancangan dan pengoperasian jaringan di dunia nyata.