Raih Masa Depan Gemilang Bersama Sekolah Ibnu Khaldun

Cara Mengajar Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka kini menjadi wajah baru pendidikan di Indonesia. Kehadiran kurikulum ini memberi ruang lebih luas bagi guru dan siswa untuk berkembang sesuai kebutuhan, minat, dan kemampuan.

Namun, banyak guru yang masih bertanya-tanya: bagaimana sebenarnya cara mengajar dengan Kurikulum Merdeka?

Dalam artikel ini, kita akan membahas langkah demi langkah mulai dari memahami konsep dasar, menyiapkan perangkat ajar, hingga strategi mengajar di kelas. Dengan begitu, guru bisa lebih percaya diri dalam menerapkan kurikulum ini secara nyata.

Memahami Esensi Kurikulum Merdeka

Sebelum masuk ke teknis, penting untuk memahami esensi kurikulum ini. Kurikulum Merdeka menekankan tiga hal utama:

  • Pembelajaran yang fleksibel – guru tidak lagi terikat ketat pada buku teks, tetapi bisa menyesuaikan dengan konteks dan kebutuhan siswa.
  • Fokus pada Capaian Pembelajaran (CP) – orientasi pembelajaran bukan hanya materi, melainkan keterampilan, sikap, dan kompetensi yang ingin di capai.
  • Penguatan Projek Profil Pelajar Pancasila (P5) – siswa di ajak belajar melalui pengalaman nyata agar nilai-nilai Pancasila hidup dalam keseharian.

Dengan memahami hal ini, guru tidak lagi sekadar “menyelesaikan materi”, melainkan benar-benar mendampingi siswa untuk tumbuh.

Baca Juga: Capaian Pembelajaran PAUD Kurikulum Merdeka

Langkah-Langkah Mengajar dengan Kurikulum Merdeka

Cara Mengajar Kurikulum Merdeka

1. Membaca dan Memahami Capaian Pembelajaran

Setiap jenjang dan mata pelajaran memiliki dokumen Capaian Pembelajaran. Di sinilah guru menemukan arah besar yang harus di capai. Agar lebih mudah, guru bisa membagi CP menjadi tujuan pembelajaran yang lebih kecil, lalu menyesuaikannya dengan kondisi kelas.

2. Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

ATP adalah jembatan antara CP dan praktik mengajar. Saat membuat ATP, guru bisa mengatur urutan kompetensi yang akan di ajarkan. Misalnya, sebelum siswa menulis esai, mereka perlu belajar menyusun kerangka tulisan. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi runtut.

3. Membuat Modul Ajar

Modul ajar dalam Kurikulum Merdeka lebih fleksibel di banding RPP lama. Modul ini bisa sederhana, tidak perlu panjang berlembar-lembar. Yang terpenting, modul memuat tujuan, aktivitas belajar, serta asesmen. Guru bisa membuat modul versi singkat, bahkan berbasis kegiatan sehari-hari.

4. Menyusun Strategi Belajar Aktif

Di kelas, guru berperan sebagai fasilitator. Alih-alih ceramah sepanjang waktu, guru bisa menggunakan diskusi kelompok, studi kasus, eksperimen, atau simulasi. Dengan begitu, siswa belajar aktif, bukan pasif.

Sebagai contoh, dalam mata pelajaran IPA, guru bisa meminta siswa melakukan percobaan sederhana di rumah dan mempresentasikan hasilnya di kelas. Cara ini jauh lebih melekat dibanding sekadar membaca teori.

5. Menyisipkan Projek Profil Pelajar Pancasila

P5 bukan kegiatan tambahan, melainkan bagian penting dari Kurikulum Merdeka. Guru bisa mengajak siswa membuat projek sosial, lingkungan, atau budaya sesuai tema yang ditentukan. Misalnya, tema “Gaya Hidup Berkelanjutan” bisa diwujudkan dengan kegiatan memilah sampah di sekolah.

Dengan projek seperti ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar keterampilan hidup.

6. Melakukan Asesmen yang Beragam

Penilaian tidak melulu berupa angka. Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen bisa berbentuk portofolio, observasi, refleksi, atau hasil karya siswa. Guru dapat menilai proses sekaligus hasil. Hal ini membuat penilaian lebih adil dan menyeluruh.

Contohnya, siswa yang kurang lancar berbicara di depan umum mungkin lebih menonjol dalam menulis atau membuat poster. Semua potensi itu perlu dihargai.

Strategi Khusus agar Mengajar Lebih Efektif

  • Gunakan media variatif – video, poster, atau platform digital bisa membuat pembelajaran lebih menarik.
  • Berikan ruang eksplorasi – biarkan siswa mencoba hal baru dan belajar dari kesalahan.
  • Ciptakan suasana inklusif – semua siswa merasa diterima tanpa melihat latar belakang.
  • Kaitkan dengan kehidupan nyata – pembelajaran yang dekat dengan pengalaman sehari-hari lebih mudah dipahami.

Dengan strategi ini, kelas akan terasa hidup dan penuh makna.

Baca Juga: Capaian Pembelajaran PAUD Kurikulum Merdeka

Tantangan dan Solusi dalam Mengajar Kurikulum Merdeka

Cara Mengajar Kurikulum Merdeka

Tidak dapat dipungkiri, perubahan kurikulum selalu membawa tantangan. Beberapa guru merasa kesulitan karena:

  • Belum terbiasa dengan istilah baru seperti CP, ATP, dan P5.
  • Terbatasnya fasilitas di sekolah.
  • Kurangnya pelatihan intensif.

Namun, ada solusi yang bisa di lakukan:

  • Ikut komunitas belajar guru untuk berbagi pengalaman.
  • Memanfaatkan sumber belajar gratis di Platform Merdeka Mengajar.
  • Memulai dari langkah kecil, tidak harus langsung sempurna.
  • Dengan pendekatan bertahap, guru akan lebih mudah menyesuaikan diri.

Kesimpulan

Cara mengajar Kurikulum Merdeka pada dasarnya sederhana: pahami esensinya, susun perangkat ajar dengan fleksibel, terapkan strategi pembelajaran aktif, dan integrasikan projek P5. Dengan langkah-langkah itu, kelas menjadi lebih hidup, siswa lebih bersemangat, dan guru merasa lebih bermakna.


FAQ

1. Apa perbedaan mengajar dengan Kurikulum Merdeka dan kurikulum sebelumnya?

2. Bagaimana cara guru memulai mengajar dengan Kurikulum Merdeka?

Guru bisa memulainya dengan memahami Capaian Pembelajaran (CP), menyusun Tujuan Pembelajaran (TP), lalu membuat alur pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.

3. Bagaimana cara merancang RPP atau modul ajar di Kurikulum Merdeka?

Guru tidak lagi membuat RPP panjang, melainkan cukup menyusun modul ajar sederhana yang memuat identitas, CP, TP, kegiatan, asesmen, dan refleksi.