Kurikulum Merdeka hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pendidikan yang lebih fleksibel, adaptif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Salah satu aspek penting dalam kurikulum ini adalah metode pembelajaran yang menekankan pada kemandirian, kreativitas, serta kolaborasi antara guru dan peserta didik.
Melalui pendekatan yang beragam, pembelajaran tidak lagi berfokus pada guru, melainkan pada siswa sebagai pusat dari proses pendidikan.
Oleh karena itu, guru perlu memahami berbagai metode pembelajaran Kurikulum Merdeka agar proses belajar dapat berlangsung optimal.
Ciri Utama Metode Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Sebelum membahas lebih jauh, mari pahami terlebih dahulu ciri utama metode pembelajaran yang digunakan.
Pertama, pembelajaran menekankan student-centered learning, di mana siswa didorong aktif menemukan pengetahuan sendiri.
Kedua, kurikulum ini mengutamakan differentiated learning, sehingga kebutuhan setiap siswa dapat terakomodasi.
Ketiga, guru lebih berperan sebagai fasilitator daripada satu-satunya sumber pengetahuan. Dengan kata lain, pendekatan ini menempatkan siswa sebagai subjek aktif, bukan objek pasif.
1. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Metode pertama yang menjadi ciri khas Kurikulum Merdeka adalah Project-Based Learning (PjBL).
Melalui metode ini, siswa tidak hanya belajar teori, melainkan juga mempraktikkannya dalam bentuk proyek nyata.
Misalnya, siswa diminta membuat karya ilmiah sederhana, merancang produk kreatif, atau menyusun kampanye sosial.
Dengan begitu, mereka dapat menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pembelajaran berbasis proyek mendorong keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta kerja sama tim.
Oleh sebab itu, metode ini sangat relevan untuk melatih siswa menghadapi tantangan abad 21.
2. Pembelajaran Berdiferensiasi (Differentiated Learning)
Selanjutnya, terdapat metode pembelajaran berdiferensiasi yang sangat menonjol dalam Kurikulum Merdeka.
Melalui pendekatan ini, guru menyesuaikan strategi mengajar dengan kebutuhan, minat, serta kemampuan siswa.
Misalnya, siswa yang memiliki gaya belajar visual dapat diberikan media berupa gambar atau video, sementara siswa dengan gaya belajar auditori dapat memperoleh penjelasan melalui diskusi.
Dengan demikian, setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensinya.
Akibatnya, tidak ada siswa yang merasa tertinggal atau terabaikan dalam proses pembelajaran.
3. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Metode lain yang sering digunakan adalah Contextual Teaching and Learning (CTL). Dalam pendekatan ini, guru mengaitkan materi pelajaran dengan situasi nyata di sekitar siswa.
Sebagai contoh, ketika membahas pelajaran matematika tentang persentase, guru bisa memberikan kasus perhitungan diskon saat berbelanja.
Dengan cara ini, siswa lebih mudah memahami konsep karena terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, pembelajaran kontekstual membuat siswa tidak hanya menguasai teori, melainkan juga mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam praktik nyata.
4. Pembelajaran Kolaboratif
Kurikulum Merdeka juga menekankan collaborative learning, yaitu pembelajaran berbasis kerja sama.
Dalam metode ini, siswa belajar melalui diskusi kelompok, berbagi ide, serta menyelesaikan tugas bersama.
Hal ini sangat penting karena membiasakan mereka untuk menghargai perbedaan pendapat dan belajar memecahkan masalah secara kolektif.
Dengan adanya kolaborasi, siswa bukan hanya memahami materi lebih dalam, melainkan juga mengembangkan keterampilan sosial yang bermanfaat untuk masa depan.
5. Pembelajaran Berbasis Inkuiri (Inquiry-Based Learning)
Metode berikutnya adalah Inquiry-Based Learning, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa untuk bertanya, mengeksplorasi, dan menemukan jawaban sendiri.
Guru tidak langsung memberikan informasi, melainkan memancing rasa ingin tahu siswa melalui pertanyaan pemantik. Misalnya, dalam pelajaran IPA, guru menanyakan mengapa es bisa mencair di suhu ruangan.
Dari pertanyaan itu, siswa akan melakukan eksperimen sederhana untuk menemukan jawabannya.
Dengan demikian, siswa terbiasa berpikir kritis, mandiri, serta terbuka terhadap berbagai sudut pandang.
6. Pembelajaran Berbasis Teknologi
Karena era digital semakin maju, Kurikulum Merdeka juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
Guru dapat menggunakan platform digital, video interaktif, hingga aplikasi pembelajaran online.
Akibatnya, proses belajar menjadi lebih menarik, variatif, serta sesuai dengan gaya hidup generasi muda.
Selain itu, teknologi memberikan peluang bagi siswa untuk belajar secara mandiri di luar jam sekolah.
Dengan cara ini, mereka tidak hanya mengandalkan penjelasan guru, tetapi juga dapat mengeksplorasi materi tambahan.
7. Pembelajaran Sosial Emosional
Selain aspek akademik, Kurikulum Merdeka juga menekankan pembelajaran sosial emosional (Social Emotional Learning/SEL).
Melalui metode ini, siswa dilatih untuk mengenali emosi diri, mengelola stres, serta berempati terhadap orang lain.
Misalnya, guru mengajak siswa melakukan refleksi harian, latihan mindfulness, atau diskusi mengenai pengalaman pribadi.
Dengan cara itu, siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional.
Pembelajaran ini sangat penting, sebab keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, melainkan juga kemampuan mengelola diri dan berinteraksi dengan orang lain.
Baca Juga: kurikulum merdeka
Peran Guru dalam Metode Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Walaupun siswa menjadi pusat pembelajaran, peran guru tetap sangat penting. Guru berfungsi sebagai fasilitator, motivator, sekaligus pembimbing.
Dengan kata lain, guru harus mampu memilih metode yang sesuai dengan karakter siswa serta kondisi kelas.
Apabila guru berhasil menerapkan metode dengan tepat, maka tujuan Kurikulum Merdeka untuk mencetak generasi mandiri, kreatif, dan berdaya saing global dapat tercapai.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, metode pembelajaran Kurikulum Merdeka berfokus pada keberagaman, fleksibilitas, serta pengalaman belajar yang bermakna.
Melalui berbagai pendekatan seperti pembelajaran berbasis proyek, berdiferensiasi, kontekstual, kolaboratif, inkuiri, teknologi, hingga sosial emosional, siswa diberi ruang untuk berkembang sesuai potensinya.
Oleh karena itu, guru perlu terus meningkatkan kompetensinya agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa dan tuntutan zaman.
FAQ
Metode pembelajaran Kurikulum Merdeka adalah pendekatan belajar yang menekankan peran aktif siswa, pembelajaran berdiferensiasi, serta keterkaitan materi dengan kehidupan nyata.
Karena metode ini membantu siswa lebih mandiri, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata sesuai kebutuhan abad 21.
Beberapa contohnya yaitu Project-Based Learning, pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran kontekstual, kolaboratif, inquiry-based learning, serta berbasis teknologi.








Leave a Reply