Penilaian di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak boleh disamakan dengan jenjang pendidikan dasar atau menengah.
Pada tahap ini, anak sedang berada di masa emas perkembangan, sehingga yang lebih penting bukan angka, melainkan bagaimana mereka tumbuh dan belajar setiap hari.
Kurikulum Merdeka menghadirkan sistem penilaian yang lebih sederhana, ramah anak, dan berfokus pada proses.
Guru tidak lagi hanya menilai dari hasil akhir, melainkan dari cara anak berinteraksi, bereksplorasi, dan menyelesaikan kegiatan.
Prinsip Penilaian dalam Kurikulum Merdeka

Ada beberapa prinsip utama yang perlu di pahami guru saat melakukan penilaian:
- Berorientasi pada proses perkembangan
Setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Penilaian harus menekankan proses, bukan hasil semata. - Di lakukan secara kontekstual
Pengamatan di lakukan melalui aktivitas sehari-hari, baik ketika bermain, belajar, maupun bersosialisasi. - Menggunakan berbagai cara
Guru dapat menilai melalui observasi, catatan anekdot, maupun dokumentasi karya anak. - Menghargai keunikan anak
Tidak ada perbandingan antar anak. Setiap individu di nilai sesuai dengan tahap perkembangannya masing-masing.
Bentuk Penilaian PAUD Kurikulum Merdeka

Agar lebih jelas, berikut adalah bentuk penilaian yang biasa di pakai guru di kelas PAUD:
1. Observasi Harian
Guru mengamati anak secara langsung ketika melakukan aktivitas.
Misalnya, saat anak menyusun balok, guru memperhatikan bagaimana ia mencoba, gagal, lalu mengulanginya lagi.
Dari proses ini, guru bisa menilai daya konsentrasi, koordinasi mata dan tangan, serta ketekunan anak.
2. Catatan Anekdot
Catatan singkat ini di buat ketika anak menunjukkan perilaku tertentu yang penting untuk dicatat.
Misalnya, seorang anak membantu temannya yang kesulitan memakai sepatu.
Dari kejadian kecil ini, guru dapat melihat bahwa anak sudah mulai mengembangkan rasa empati.
3. Portofolio Karya
Portofolio berisi kumpulan hasil kegiatan anak, baik berupa gambar, kerajinan, maupun foto aktivitas. Dari portofolio, terlihat jelas perkembangan keterampilan anak dari waktu ke waktu.
Misalnya, gambar anak di awal semester hanya berupa coretan, tetapi di akhir semester sudah bisa menggambar bentuk sederhana seperti rumah atau pohon.
4. Catatan Perkembangan Individu
Selain observasi dan portofolio, guru juga membuat catatan perkembangan setiap anak.
Catatan ini memuat aspek motorik, bahasa, kognitif, dan sosial-emosional.
Misalnya, seorang anak mampu meronce manik-manik tanpa bantuan (motorik halus), dapat menyebutkan nama hewan (bahasa), dan mau menunggu giliran saat bermain (sosial-emosional).
Contoh Penilaian yang Bisa Di pakai

Agar lebih mudah di pahami, berikut beberapa contoh penilaian sederhana sesuai Kurikulum Merdeka:
- Seorang anak bernama Aisyah dapat mengancingkan bajunya sendiri tanpa bantuan. Hal ini menunjukkan motorik halusnya berkembang baik.
- Bima mampu menyebutkan angka satu sampai lima dengan jelas. Artinya, kemampuan kognitifnya semakin meningkat.
- Rafi sering meminjamkan mainannya kepada teman. Ini menandakan ia sudah belajar berbagi dan memiliki kemampuan sosial yang positif.
- Dina bercerita tentang gambar yang ia buat dengan kalimat sederhana. Dari sini terlihat kemampuan bahasanya berkembang pesat.
Penutup
Penilaian PAUD dalam Kurikulum Merdeka menempatkan anak sebagai pusat perhatian.
Guru tidak perlu memberikan nilai dalam bentuk angka, melainkan catatan yang menggambarkan perkembangan mereka.
Dengan observasi, catatan anekdot, portofolio, dan laporan perkembangan, guru dapat memahami setiap anak secara utuh.
Hasil penilaian ini juga menjadi sarana komunikasi antara guru dan orang tua untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
FAQ
Penilaian perkembangan anak melalui observasi, portofolio, dan catatan anekdot.
PAUD menekankan aspek perkembangan dasar, sementara SMK fokus pada keterampilan kerja.
Agar dapat mendukung perkembangan anak di rumah sesuai asesmen guru.









Leave a Reply