Inilah 3 Jenis Kurikulum Merdeka, pendidikan di Indonesia terus mengalami perubahan agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Salah satu terobosan penting dalam dunia pendidikan adalah lahirnya Kurikulum Merdeka, yang menghadirkan kebebasan serta keluwesan bagi guru, siswa, dan sekolah.
Menariknya, terdapat 3 jenis Kurikulum Merdeka yang bisa di pilih sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan.
Artikel ini akan membahas secara komprehensif pengertian, jenis, keunggulan, hingga tantangan penerapan kurikulum ini.
Apa Itu Kurikulum Merdeka?

Kurikulum Merdeka adalah sistem pendidikan terbaru yang di kembangkan oleh Kemdikbudristek untuk menggantikan Kurikulum 2013.
Melalui kurikulum ini, pendidik bersama lembaga pendidikan memiliki ruang yang lebih luas untuk merancang pembelajaran yang menyesuaikan potensi serta kebutuhan peserta didik.
Fokus utama Kurikulum Merdeka adalah pada pengembangan karakter melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) serta penguasaan kompetensi esensial.
Dengan begitu, siswa tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki soft skills yang kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan nyata.
3 Jenis Kurikulum Merdeka

Dalam penerapannya, pemerintah memberikan tiga pilihan model implementasi.
Ketiga model tersebut dapat di tetapkan oleh sekolah menyesuaikan dengan tingkat kesiapan serta ketersediaan sumber daya. Berikut adalah 3 jenis Kurikulum Merdeka:
1. Kurikulum Merdeka Belajar Mandiri
Pada jenis ini, sekolah masih menggunakan Kurikulum 2013, tetapi di beri kesempatan mencoba sebagian elemen Kurikulum Merdeka. Contohnya, penerapan pembelajaran berbasis proyek (P5) bisa di lakukan pada sejumlah mata pelajaran tertentu.
2. Kurikulum Merdeka Belajar Mandiri Berubah
Sekolah mulai menerapkan struktur Kurikulum Merdeka, termasuk pembelajaran berbasis proyek secara penuh. Namun, guru masih menggunakan perangkat ajar lama yang di modifikasi sesuai kebutuhan.
3. Kurikulum Merdeka Belajar Mandiri Berbagi
Jenis terakhir adalah sekolah yang sudah sepenuhnya menerapkan Kurikulum Merdeka, mulai dari perangkat ajar, asesmen, hingga pengelolaan pembelajaran. Sekolah ini juga dapat menjadi rujukan dan berbagi pengalaman dengan sekolah lain.
Keunggulan Kurikulum Merdeka

Penerapan 3 jenis Kurikulum Merdeka membawa sejumlah keunggulan yang bermanfaat bagi sekolah, guru, dan siswa.
1. Fleksibilitas Tinggi
Sekolah dapat memilih jenis kurikulum sesuai dengan tingkat kesiapan dan sarana yang tersedia.
2. Berpusat pada Siswa
Metode pembelajaran lebih kontekstual, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
3. Fokus pada Kompetensi Esensial
Guru lebih mudah menekankan materi inti yang benar-benar penting, sehingga siswa tidak terbebani dengan banyak hafalan.
4. Mendorong Kreativitas
Dengan Kurikulum Merdeka, guru dan siswa memiliki ruang yang lebih luas untuk bereksperimen dalam proses pembelajaran.
Tantangan dalam Penerapan Kurikulum Merdeka

Meski bermanfaat, penerapan 3 jenis Kurikulum Merdeka juga memiliki beberapa tantangan, di antaranya:
1. Kesiapan Guru
Masih banyak guru yang mengalami kendala dalam memahami konsep baru sehingga di perlukan pelatihan berkesinambungan.
2. Fasilitas Sekolah
Selain itu, tidak semua sekolah memiliki fasilitas serta infrastruktur yang cukup untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek.
3. Adaptasi Siswa
Siswa memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan metode baru yang lebih aktif dan kolaboratif.
4. Dukungan Orang Tua
Keberhasilan penerapan kurikulum juga di pengaruhi oleh pemahaman serta keterlibatan orang tua.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat di simpulkan bahwa 3 jenis Kurikulum Merdeka adalah bentuk fleksibilitas yang di berikan pemerintah agar sekolah dapat memilih model pembelajaran sesuai kesiapan.
Dengan keunggulan yang di tawarkan, Kurikulum Merdeka menjadi langkah strategis dalam memajukan pendidikan Indonesia.
FAQ
Terdiri dari Kurikulum Merdeka Belajar Mandiri, Mandiri Berubah, dan Mandiri Berbagi.
Tidak, penerapan di lakukan secara bertahap sesuai kesiapan sekolah.
Manfaat utamanya adalah memberikan pembelajaran yang fleksibel, relevan, dan berpusat pada kebutuhan anak.









Leave a Reply